Translate

Saturday, 7 April 2012

Beberapa Teori Dalam Pelestarian Bangunan


Antariksa

 
Karakter Arsitektural
Karakter bangunan kolonial
Suatu bentuk arsitektur dalam perencanaanya memiliki arti, makna, ataupun kesan tersendiri sehingga pada akhirnya akan memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan bentuknya. Menurut hasil penelitian Ashfa (2007) karakter visual suatu bangunan pada umumnya dapat diidentifikasi melalui: 1. Fasade; 2. Warna; 3. Tekstur; 4. Material; 5. Tipe Jendela; dan 6. Atap.
Handinoto (1996: 187-191) mengemukakan bahwa suatu bangunan kolonial memiliki karakteristik tersendiri, antara lain: 1. Bentuk denah yang “tipis” untuk memudahkan penghawaan silang; 2. Orientasi bangunan yang tepat terhadap sinar matahari; 3. Galeri keliling bangunan yang melindungi dari tampias hujan dan sinar matahari langsung; 4. Lubang ventilasi diperlihatkan sebagai elemen arsitektur yang menarik; 5. Penataan massa bangunan memiliki jarak agar orang menikmati keseluruhan bangunan; dan 6. Tampak yang berbentuk simetri untuk menambah kesan monumental bangunan.
Sebuah laboratorium penelitian adalah bangunan yang memiliki karakteristik tersendiri akibat fungsi spesifik yang diwadahi olehnya. Konsep bangunan laboratorium penelitian adalah kemampuannya untuk beradaptasi terhadap cepatnya perubahan kebutuhan dan teknologi fungsi yang diwadahi. Mills (1976) menjelaskan mengenai pendekatan-pendekatan dalam kemampuan beradaptasi bangunan laboratorium: 1. Struktur: Grid yang terstandarisasi dengan lubang melalui struktur untuk keperluan servis, baik horizontal maupun vertikal; 2. Servis bangunan (utilitas): Setiap pipa utilitas (bila memungkinkan) harus memiliki sambungan titik T yang tertutup (a stopped off T-connection point) untuk kebutuhan utilitas di masa depan. Terdapat akses menuju sistem utilitas yang tersembunyi (concealed system) untuk pemeliharaan dan perubahan/penambahan di masa mendatang; 3. Keleluasaan: Setiap departemen sebaiknya memiliki ‘akhiran yang terbuka’ sehingga dapat dikembangkan di tiap-tiap departemen, tanpa mempengaruhi departemen yang lain; 4. Variasi ukuran ruangan: Aktifitas eksperimen terkadang dilakukan oleh kelompok yang jumlahnya bervariasi dan membutuhkan ukuran ruangan yang bervariasi, yang bisa ditempatkan dalam laboratorium yang luas. Perlu adanya kompartemen untuk mengantisipasi kebakaran dan mengurangi kerusakan akibat asap; dan 5. Area untuk mengantisipasi perubahan: Partisi dinding dapat dibatasi pada zona-zona yang ditentukan, yang memungkinkan terjadinya perubahan. Area servis sebaiknya dijauhkan dari partisi-partisi ini untuk memungkinkan perubahan ke depannya.

Elemen pembentuk karakter bangunan
Mills (1994: 210) mengemukakan bahwa banyak bangunan tua lebih kompleks dan menampilkan “karakter” lebih banyak dibandingkan dengan banyak bangunan saat ini, dibangun oleh tukang-tukang yang ahli dengan menggunakan material yang berkualitas tinggi. Pada bangunan kolonial, bagian yang paling menentukan cirinya menjadi suatu bangunan kolonial adalah fasade/selubung bangunan. Hal ini kemudian dikuatkan oleh pendapat Krier (2001: 122) yang mengemukakan hingga abad ke-20 fasade masih tetap menjadi elemen arsitektur terpenting yang mampu menyuarakan fungsi suatu bangunan. Widaningsih (2004) membatasi bahwa suatu fasade merupakan wajah depan bangunan yang membatasi jalan. Komposisi suatu fasad merupakan hasil penciptaan kesatuan harmonis antara proporsi yang baik, penyusunan struktur vertikal dan horizontal (Krier, 2001: 122).
Elemen-elemen pendukung karakter bangunan menurut Krier (2001) adalah: 1. Jendela: Krier (2001: 102) mengemukakan bahwa fungsi jendela sangat penting, sebagai sumber cahaya yang menghidupkan suatu ruangan. Permainan cahaya dan bayangan membangkitkan persepsi akan ruangan tersebut. Beberapa karakteristik jendela sebagai elemen bangunan adalah sebagai berikut (Gambar 1): - Bentuk dan jeruji dasar; - Figur-figur jendela; dan - Jendela sebagai pembagi ruang; 2. Jalan masuk dan pintu masuk: Posisi suatu jalan masuk dan makna arsitektonis yang dimilikinya menunjukkan peran dan fungsi bangunan tersebut, sedangkan pintu masuk menjadi tanda transisi dari bagian publik (eksterior) ke bagian privat (interior) (Krier, 2001: 137); 3. Atap: Atap berperan sebagai mahkota yang disandang oleh tubuh bangunan, sehingga secara visual, atap merupakan akhiran dari fasad dan titik akhir dari bangunan (Krier, 2001: 160); 4. Dinding: Dinding adalah salah satu elemen fasad bangunan yang memperkuat cirri dan karakter suatu bangunan. Permukaan finishing suatu dinding dapat memperkuat karakter suatu bangunan. Penyusunan dinding dengan lapisan batu memiliki nilai teknis dan estetis tertentu dibandingkan dengan dinding dengan penyelesaian standar; dan 5. Denah dasar dan bentuk bangunan: Tidak ada satupun denah dasar atau bangunan yang dapat ditelusuri kembali sehingga bangunan tiba pada suatu fungsi. Suatu tipe ‘ruang-ruang tertentu’ adalah relatif dan tidak tergantung pada fungsi awal yang dikehendaki sebelumnya, yang muncul pada awal proses perencanaan (Krier, 2001: 162): - Denah lantai berbentuk U: Bentuk bangunan U memiliki karakter yang kuat: simetri yang jelas dengan pusatnya yang dominan; dan - Bangunan bujur sangkar: Sebagai suatu objek geometris, kubus paling jelas mengkomunikasikan tanda penutup (enclosure) dan juga merupakan simbol stabilitas.
Widaningsih (2004) membagi karakteristik fasade berdasarkan komponen-komponennya sebagai berikut: 1. Pintu masuk (entrance); 2. Jendela; 3. Atap; dan 4. Tanda-tanda (signs) pada fasade.

Pelestarian Bangunan
Pelestarian bangunan (cagar budaya) secara umum telah menjadi wacana internasional selama beberapa dasawarsa yang lalu, yang dapat dilihat pada beberapa piagam pelestarian, diantaranya The Venice Charter (1964-1965), The Burra Charter (1979), Rekomendasi UNESCO (1976), Piagam Washington (1987), serta The World Herritage Cities Management Guide (1991). Piagam dari International Council of Monuments and Site (ICOMOS) tahun 1981, yaitu Charter for the Conservation of Places of Cultural Significance, Burra, Australia yang dikenal dengan Burra Charter. Dalam Burra Carter (1981) makna pelestarian merupakan suatu proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang ada tetap terpelihara dengan baik sesuai situasi dan kondisi setempat. Menurut Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia (2003) pelestarian adalah upaya pengelolaan pusaka melalui kegiatan penelitian, perencanaan, perlindungan, pemeliharaan, pemanfaatan, pengawasan, dan/atau pengembangan secara selektif untuk menjaga kesinambungan, keserasian, dan daya dukungnya dalam menjawab dinamika jaman untuk membangun kehidupan bangsa yang lebih berkualitas. Menurut UU Cagar Budaya No.11 Tahun 2010, pelestarian merupakan upaya dinamis untuk mempertahankan cagar budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan dan memanfaatkannya. Secara umum istilah pelestarian merupakan proses dalam memelihara, menjaga maupun melindungi sesuatu yang bernilai dipandang dari segala aspek baik ekonomi, politik, sosial dan budaya agar hal tersebut tidak menghilang. Pada awalnya usaha pelestarian hanya menyangkut pengelolaan lingkungan terkait ketersediaan sumber daya alam, namun dalam perkembangannya pelestarian juga mencakup dalam pemeliharaan lingkungan binaan yang salah satunya merupakan bidang arsitektur. Upaya pelestarian bidang arsitektur saat ini telah mencakup kegiatan yang sangat luas, salah satunya lingkup bangunan dan kawasan atau lingkungan (Bani 2004).
Konservasi adalah istilah umum dari semua kegiatan pelestarian sesuai dengan kesepakatan internasional yang telah dirumuskan dalam piagam tersebut. Selain itu menurut Danisworo (2005) pelestarian sebagai konservasi adalah upaya untuk melestarikan melindungi serta memanfaatkan sumber daya suatu tempat. Dari pengertian pelestarian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pelestarian merupakan suatu upaya untuk melindungi dan menjaga bangunan dan lingkungan dari kerusakan ataupun mencegah terjadinya kerusakan sehingga makna kulturalnya yang mengandung nilai sejarah arsitektural keindahan nilai keilmuan dan nilai sosial tetap dapat terpelihara untuk generasi mendatang.

Lingkup objek pelestarian
Pada mulanya konsep pelestarian hanya terbatas pada perlindungan dan pemeliharaan bangunan. Menurut Jacques dalam Bani (2004) konsep pelestarian pada awalnya cenderung hanya melestarikan (preserve) bangunan sebagai suatu museum, sedangkan menurut perkembangannya saat ini pelestarian tidak hanya mencakup skala bangunan saja. Menurut Shankland dalam Bani (2004), lingkup pelestarian dapat dibedakan atas desa dan kota kecil bersejarah; kawasan bersejarah dalam kota besar; kota bersejarah; dan kelompok bangunan bersejarah. Pada kawasan kota objek dan lingkup pelestarian digolongkan dalam beberapa luasan, antara lain: a. Satuan Areal, yaitu berwujud sub wilayah; b. Satuan Pandang atau View, berupa aspek visual yang memberikan bayangan metal (image) antara lain, path, edge, node, district, dan landmark; dan c. Satuan Fisik, berwujud bangunan, sederetan bangunan, bahkan unsur bangunan seperti struktur, ornamen dan lainnya.
Dari beberapa lingkup objek pelestarian tersebut yang termasuk dalam bidang kajian arsietktur adalah pelestarian baik dalam lingkup areal maupun fisik yang berwujud bangunan atau kawasan bangunan yang didalamnya juga membahas tentang unsur pembentuk bangunan seperti, fasade, ornamen, struktur dan unsur lainnya yang memiliki nilai sejarah dan nilai estetika yang tinggi.

Klasifikasi pelestarian
Pelestarian bangunan tua merupakan suatu pendekatan yang strategis dalam pembangunan kota, karena pelestarian menjamin kesinambungan nilai-nilai kehidupan dalam proses pembangunan yang dilakukan manusia. Salah satu cara untuk mendukung kegiatan pelestarian bangunan tua adalah dengan pelaksanaan insentif dan disinsentif pelestaran bangunan. Di Indonesia sendiri, terdapat beberapa bentuk insentif dan disinsentif yang telah dicantumkan dalam peraturan pelestarian bangunan (Undang-undang No.11 tahun 2010 tentang Benda Cagar Budaya, PP No.10 tahun 1993 tentang pelaksanaan Undang-undang No 5 tahun 1992, dan Kepmendikbud No.062/U/1995, No.063/U/1995, dan No.064/U/1995). Macam–macam pelestarian yang mungkin dilakukan pada bangunan tua antara lain: 1. Preservasi: Adalah tindakan atau proses penerapan langkah-langkah dalam mendukung keberadaan bentuk asli, keutuhan material bangunan/struktur, serta bentuk tanaman yang ada dalam tapak. Tindakan ini dapat disertai dengan menambahkan penguat-penguat pada struktur, disamping pemeliharaan material bangunan bersejarah tersebut: a. Upaya melindungi benda cagar budaya secara tidak langsung (pemagaran, pencagaran) dari faktor lingkungan yang merusak; dan b. Mempunyai arti yang mirip dengan konservasi; perbedaannya ialah: 1) Secara teknis: preservasi lebih menekankan pada segi pemeliharaan secara sederhana, tanpa memberikan perlakuan secara khusus terhadap benda; dan 2) Secara strategis/makro: preservasi mempunyai arti yang mirip dengan pelestarian, yang meliputi pekerjaan teknis dan administratif (pembinaan, perlindungan); 2. Rehabilitasi/Renovasi: Membuat bangunan tua berfungsi kembali. Dengan catatan, perubahan-perubahan dapat dilakukan sampai batas-batas tertentu, agar bangunan dapat beradaptasi terhadap lingkungan atau kondisi sekarang atau yang akan datang. Adalah sebuah proses mengembalikan obyek agar berfimgsi kembali, dengan cam memperbaiki agar sesuai dengan kebutuhan sekarang, seraya melestarikan bagian-bagian dan wujud-wujud yang menonjol (penting) dinilai dari aspek sejarah, arsitektur dan budaya.Salah satu bentuk pemugaran yang sifat pekerjaannya hanya memperbaiki bagian-bagian bangunan yang mengalami kerusakan. Bangunan tersebut tidak dibongkar seluruhnya karena pekerjaan rehabilitasi umumnya melibatkan tingkat prosentase kerusakan yang rendah; 3. Konservasi: Memelihara dan melindungi tempat-tempat yamg indah dan berharga, agar tidak hancur atau berubah sampai batas-batas yang wajar. Menekankan pada penggunaan kembali bangunan lama, agar tidak terlantar. Apakah dengan menghidupkan kembali fungsi lama, ataukah dengan mengubah fungsi bangunan lama dengan fungsi baru yang dibutuhkan. - Upaya perlindungan terhadap benda-benda cagar budaya yang dilakukan secara langsung dengan cara membersihkan, memelihara, memperbaiki, baik secara fisik maupun khemis secara langsung dari pengaruh berbagai faktor lingkungan yang merusak. - Perlindungan benda-benda (dalam hal ini benda-benda peninggalan sejarah dan purbakala) dari kerusakan yang diakibatkan oleh alam, kimiawi dan mikro organisme; dan 4. Rekonstruksi: Adalah tindakan suatu proses mereproduksi dengan membangun baru semua bentuk serta detil secara tepat, sebuah bangunan yang telah hancur/hilang, serti tampak pada periode tertentu. - Yaitu suatu kegiatan penyusunan kembali struktur bangunan yang rusak/runtah, yang pada umumnya bahan-bahan bangunan yang asli sudah banyak yang hilang. Dalam hal ini kita dapat menggunakan bahan-bahan bangunan yang baru seperti cat warna atau bahan lainnya yang bentuknya hares disesuaikan dengan bangunan aslinya

Jenis kegiatan pelestarian dan tingkat perubahan
Highfield (1987: 20-21) menjabarkan tingkat perubahan pada tindakan pelestarian dalam tujuh tingkatan, yakni 1. Perlindungan terhadap seluruh struktur bangunan, beserta dengan subbagian-bagian penyusunnya, dan memperbaiki finishing interior, utilitas bangunan, dan sarana-prasarana. Dalam tingkat pelestarian yang paling rendah, perubahan yang memungkinkan terjadi adalah perbaikan tangga eksisting untuk disesuaikan dengan kebutuhan lift, penggunaan sistem penghawaan buatan sederhana yang dikombinasikan dengan penghawaan alami; 2. Perlindungan terhadap seluruh selubung eksterior bangunan, termasuk atap dan sebagian besar interiornya, dengan perubahan kecil pada struktur internal, dan memperbaiki finishing interior, utilitas bangunan, dan sarana saniter. Perubahan struktural dapat melibatkan demolisi beberapa subbagian interior, atau penambahan tangga baru, dan apabila memungkinkan shaft lift; 3. Perlindungan terhadap seluruh selubung eksterior eksisting, termasuk atap, dengan perubahan besar pada struktur internal serta perbaikan finishing, utilitas, dan sarana saniter. Perubahan besar pada struktur internal dapat melibatkan penambahan tangga beton bertulang yang baru, instalasi lift, demolisi dinding struktur pada interior secara skala yang lebih luas, atau penambahan lantai baru selama sesuai dengan ketinggian lantai aslinya; 4. Perlindungan seluruh dinding selubung bangunan, dan demolisi total pada atap dan interiornya, dengan membangun bangunan yang sama sekali baru di belakang fasad yang dipertahankan. Opsi ini dapat dilakukan pada bangunan yang terisolasi, seluruh dinding fasad eksternal layak untuk dilindungi, tapi pengembangan ke depannya menbutuhkan wadah untuk fungsi yang sama sekali baru, bebas dari elemen internal bangunan eksisting; 5. Perlindungan hanya pada dua atau tiga penampang/tampak bangunan eksisting, dan demolisi total terhadap sisanya, dengan pembangunan bangunan yang sama sekali baru di belakang dinding fasad yang dipertahankan. Opsi ini dapat dilakukan pada bangunan yang tapaknya terletak pada sudut pertemuan dua atau lebih jalan; 6. Perlindungan hanya pada satu penampang/tampak bangunan, sebuah dinding fasade dari bangunan eksisting, dan demolisi total terhadap sisanya, dengan membangun bangunan yang sama sekali baru di belakang dinding fasad. Opsi ini dapat dilakukan apabila bangunan tersebut hanya memiliki satu fasad yang penting, tampak bangunan yang penting tersebut menghadap jalan utama dan seluruh sisa tampaknya menempel pada bangunan di sekelilingnya; dan 7. Opsi paling drastis pada pengembangan kembali adalah dengan tidak memberikan pilihan untuk pelestarian, tetapi dengan demolisi total bangunan eksisting dan menggantinya dengan bangunan yang baru.
Tindakan pelestarian pada poin 3 dan 4 termasuk pada pelestarian yang tergolong sederhana, sedangkan pada poin 5, 6 dan 7 digolongkan sebagai tipe pelestarian yang sangat drastis. Pada kasus pelestarian bangunan, umumnya opsi 1, 2, dan 3 adalah opsi yang paling umum digunakan mengingat bahwa opsi-opsi tersebut paling efisien dalam segi pembiayaan. Di lain pihak, opsi 4, 5, dan 6 seringkali lebih mahal pembiayaannya dibandingkan dengan demolisi total dan pembangunan baru, sehingga dari segi ekonomi kurang diminati.
Menurut Fitch (1982) yang dilengkapi dengan pendapat Busono (2009), jenis kegiatan pemeliharaan bangunan serta tingkat perubahan yang dapat terjadi dalam mempertahankan komponen bangunan dapat digolongkan menjadi 7 tingkatan, yaitu a. Pengawetan (preservation), yaitu mempertahankan bangunan seperti adanya saat akan diawetkan yang dilakukan dengan alat bantu berupa zat pengawet, teknologi dan sebagainya: - Penampilan estetiknya tidak boleh ada yang ditambah maupun dikurangi; dan - Intervensi apapun yang diperlukan dalam rangka mengawetkan bangunan hanya boleh dilakukan pada permukaan bangunan dan diusahakan seminimal mungkin; b. Pemugaran (restoration), yaitu pengembalian warisan budaya ke kondisi awal perkembangan morfologinya: - Proses atau tahapan yang akan digunakan ditentukan oleh kesejarahannya atau integritas estetikanya; - Tingkatan perubahan yang dilakukan lebih besar dibanding dengan preservasi sederhana; c. Penguatan (consolidation), yaitu usaha mempertahankan bentuk dan bangun warisan budaya dengan menggunakan alat bantu kebendaan: - Tingkat perubahan fisik pada bahan maupun elemen bangunan digunakan untuk mempertahankan aspek struktural bangunan; - Tolak ukur perubahan pada proses ini mulai dari perubahan sederhana hingga perubahan radikal; d. Penataan ulang (reconstritution), yaitu menyelamatkan bangunan yang runtuh melalui penyusunan kembali elemen bangunan tersebut satu persatu, baik pada era lama maupun era yang baru; e. Pemakaian baru (adaptive re-use), yaitu membangun kembali bangunan lama untuk fungsi baru: - Merupakan salah satu cara ekonomis dalam menyelamatkan bangunan; - Umumnya terjadi perubahan yang besar dalam proses ini terutama perubahan pada organisasi ruang dalamnya; f. Pembangunan ulang (reconstruction), yaitu membangun kembali bangunan yang sudah hilang: - Bangunan rekonstruksi bertindak sebagai pengganti tiga dimensional dari struktur asli secara terukur, bentuk fisiknya ditetapkan oleh bukti arkeologis, arsip serta literature; - Memiliki tingkat perubahan yang paling besar; dan g.  Pembuatan kembaran (replication), yaitu penciptaan yang meniru secara utuh warisan budaya yang masih ada, dengan konstruksi baru; - Memiliki sifat yang sama dengan rekonstruksi namun secara fisik replika lebih akurat daripada rekonstruksi; - Tingkat perubahan pada proses replika termasuk dalam perubahan yang paling besar, namun memiliki kegunaan yang spesifik misal sebagai museum.
Dobby (1978:8) mengemukakan tingkat-tingkat perubahan setiap strategi pelestarian (Tabel 1):

Tabel 1. Jenis Kegiatan dan Tingkat Perubahan
Kegiatan
Tingkat Perubahan
Tidak Ada
Sedikit
Banyak
Semuanya
Preservasi




Konservasi




Restorasi




Rehabilitasi




Renovasi




Addisi




Rekonstruksi




Adaptasi/Revitalisasi




Demolisi





Sumber: Dobby (1978)

Tahapan kegiatan pelestarian bangunan
Pada penjelasan mengenai strategi pelestarian konservasi merupakan salah satu bagian dari suatu kegiatan pelestarian. Dalam piagam Burra dijelaskan mengenai langkah dalam melakukan konservasi yang disebut rencana konservasi (Conservation Plan), yang terdiri atas: a. Tahap 1: Stating Cultural Significance, merupakan usaha memahami dan menilai makna kultural dari bangunan beserta nilai tempatnya dengan kriteria penilaian tertentu sebagai contoh nilai keindahan, sejarah dan keilmuan, maupun nilai demonstratif, hubungan asosiasional, kualitas formal dan estetis; dan b. Tahap 2: Conservation Policy, merupakan pencarian cara–cara terbaik dalam mempertahankan nilai–nilai tersebut dalam penggunaannya dan pengembangan di masa yang akan datang (Kerr 1982). Diagram konsep rencana konservasi (Gambar 1).

 
Gambar 1. Diagram rencana konservasi. Sumber: Kerr (1982)

Manfaat pelestarian
Budihardjo (1985) mengemukakan setidaknya tujuh manfaat kegiatan preservasi, antara lain: 1. Pelestarian lingkungan lama akan memperkaya pengalaman visual, menyalurkan hasrat kesinambungan, member tautan bermakna dengan masa lampau, dan memberikan pilihan untuk tetap tinggal dan bekerja di dalam bangunan maupun lingkungan lama tersebut; 2. Di tengah perubahan dan pertumbuhan yang pesat seperti sekarang ini, lingkungan lama akan menawarkan suasana permanen yang menyegarkan; 3. Teknologi pembangunan yang berorientasi pada nilai-nilai ekonomis di atas lahan berskalabesar ternyata berakhir dengan keseragaman yang membosankan. Upaya-upaya untuk mempertahankan bagian kota yang dibangun dengan skala akrab akan membantu hadirnya sense of place, identitas diri, dan suasana kontras; 4. Kota dan lingkungan lama adalah salah satu asset terbesar dalam industry wisata internasional, sehingga perlu dilestarikan; 5. Upaya preservasi dan konservasi merupakan salah satu upaya generasi masa kini untuk dapat melindungi dan menyampaikan warisan berharga kepada generasi mendatang; 6. Pengadaan preservasi dan konservasi akan membuka kemungkinan bagi setiap manusia untuk memperoleh kenyamanan psikologi yang seangat diperlukannya untuk dapat menyentuh, melihat, dan merasakan bukti fisik sesuatu tempat di dalam tradisinya; dan 7. Upaya-upaya pelaksanaan preservasi dan konservasi akan membantu terpeliharanya warisan arsitektur, yang dapat menjadi catatan sejarah masa lampau dan melambangkan keabadian serta kesinambungan, yang berbeda dengan keterbatasan kehidupan manusia.
Mills (1994) mengklasifikasikan manfaat pelestarian bangunan dalam tiga bagian, yaitu 1. Keuntungan dari sisi ekonomi: Pada prinsipnya, pelestarian memberikan keuntungan dalam hal waktu, karena menghemat antara setengah sampai tiga-perempat waktu yang digunakan untuk demolisi dan konstruksi yang baru, sehingga diikuti oleh keuntungan ekonomis, yakni: - Masa pengembangan yang lebih singkat mengurangi biaya pembiayaan projek dan juga mengurangi efek inflasi pada biaya bangunan; dan Klien memiliki bangunan dalam jangka waktu yang lebih cepat, dengan demikian dapat mulai menerima pemasukan dari penggunaan bangunan  lebih cepat. Selain itu, biaya untuk mengubah/merehabilitasi bangunan umumnya sekitar separuh dari biaya konstruksi bangunan, karena banyak elemen bangunan yang sudah ada sebelumnya; 2. Keuntungan dari lingkungan: Bangunan yang mempunyai nilai sejarah atau arsitektural tinggi sebaiknya dijaga, mengingat kontribusinya bagi keramah-tamahan visual bagi kawasan sekitar, bagi kebudayaan, atau bagi interpretasi sejarah. Pelestarian kawasan yang menarik jika dikombinasikan dengan rehabilitasi bangunan tua untuk mengakomodasi fungsi yang modern terkadang bisa diartikan sebagai keuntungan finansial. Konteks fisik suatu bangunan yang telah dilestarikan sama pentingnya dengan nilai fisik bangunan tersebut. Jika suatu bangunan berdiri dekat dengan bangunan tua lain yang menarik secara arsitektural, daya tarik dan nilainya akan meningkat. Pelestarian bangunan tersebut akan nampak, dan idealnya akan memperkuat karakter dan integritas arsitekturalnya. Dalam konteks yang lebih luas, bangunan dapat dilihat sebagai sumber daya yang potensial untuk digunakan kembali (re-use) daripada sumber daya yang dapat tergantikan; dan 3. Keuntungan dari sisi sosial: Menciptakan suatu komunitas yang baru adalah sebuah proses yang rumit dan tidak bisa tercapai seperti yang diharapkan oleh arsitek dan perancang kota.
Menurut Shrivani (1985) pelestarian pada suatu kawasan maupun bangunan dapat memberikan beberapa manfaat antara lain: a. Manfaat kebudayaan yaitu sumber-sumber sejarah yang dilestarikan dapat menjadi sumber pendidikan dan memperkaya estetika; b. Manfaat ekonomi yaitu adanya peningkatan nilai properti, peningkatan pada penjualan ritel dan sewa komersil, penanggulangan biaya-biaya relokasi dan peningkatan pada penerima pajak serta pendapatan dari sektor pariwisata; dan c. Manfaat sosial dan perencanaan, karena upaya pelestarian dapat menjadi kekuatan yang tepat dalam memulihkan kepercayaan masyarakat.
Meskipun kegiatan pelestarian bangunan maupun kawasan bersejarah masih kurang dipahami sebagian masyarakat di Indonesia, namun dengan banyaknya manfaat yang didapat melalui upaya pelestarian sepatutnya hal ini mulai dikembangkan dalam pola pikir masyarakat agar masyarakat suatu kota maupun kawasan yang memiliki potensi untuk dilestarikan dapat ikut berperan serta dalam upaya pelestarian bangunan maupun kawasan.

Sumber Pustaka
Akihary, H. 2006. Ir. F.J.L.Ghijsels: Architect in Indonesia. Utrecht: Seram Press.
Antariksa. 2010. Tipologi Wajah Bangunan dan Riasan dalam Arsitektur Kolonial Belanda. http://antariksaarticle.blogspot.com/2010/05/tipologi-wajah-bangunan-dan-riasan.html.  (diakses 27 Februari 2011)
Attoe, W. 1989. Perlindungan Benda Bersejarah. Dalam Catanese, Anthony J. dan Snyder, James C. (Editor). Perencanaan Kota: 413-438. Jakarta: Erlangga.
Badan Pelestarian Pusaka Indonesia. 2003. Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia. http://www.indonesianheritage.org/produk-hukum/74-piagam-pelestarian-pusaka-indonesia.html. (diakses 3 Maret  2011)
Budiharjo, Eko. 1985. Arsitektur dan Pembangunan Kota di Indonesia. Bandung : Alumni
Budiharjo, Eko. 1997. Arsitektur Pembangunan dan Konservasi. Jakarta : Djambatan
Budiharjo, Eko. 1997. Arsitektur sebagai  Warisan Budaya. Jakarta : Djambatan
Dobby, A. 1978. Conservation and Planning. London: Hutchinson.
Fitch, J.M. 1992. Historic Preservation: Curatorial Management of The Build World. New York: Mc Graw Hill Book company.
Handinoto. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1870-1940). Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen PETRA Surabaya.
Handinoto. 2004. Kebijakan Politik dan Ekonomi Pemerintah Kolonial Belada yang Berpengaruh pada Morpologi (Bentuk dan Struktur) Beberapa Kota di Jawa. Dimensi Teknik Arsitektur. 32 (1):19-27.
Handinoto. 2010. Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta: Graha Ilmu
Hastijanti, R. 2008. Analisis Penilaian Bangunan Cagar Budaya. http://saujana17.wordpress.com/2008/analisis-penilaian-bangunan-cagar-budaya .html.  (diakses 27 Februari 2011)
Highfield, D. 1987. Rehabilitation and Re-use of Old Building. London: E. & F.N. Spon.
ICOMOS. 1981. Charter for the Conservation of Places of Cultural Significance. http://australia.icomos.org/wp-content/uploads/BURRA_CHARTER.pdf. (diakses 5 Maret 2011)
Kerr, R.J. 1982. The Conservation Plan: A Guide to the Preparation of Conservation Plans for European Cultural Significant. New South Wales: The National Trust of Australia.
Krier, R.J. 1988. Komposisi Arsitektur. Jakarta : Erlangga.
Mills, E. 1876. Planning: Building for Education, Culture, and Science. London: Newnes-Butterworth.
Mills, E. 1994. Building Maintenance and Preservation: a Guide for Design and Management. Oxford: Butterworth-Heinemann.
Muhammad, N.B. 2004. Model Pelestarian Arsitektur Berbasis Teknologi Informasi. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 32, Desember 2004.
Mutiari, D. 2003. Heritage Environment Conservation Management Related to Economic Orientation in Urban Design. Proseding dalam International Symposium and Workshop on Managing Heritage Environment in Asia. Pusat Pelestarian Pusaka Arsitektur. Yogyakarta, 8-12 Januari 2003.
Nurmala. 2003. Panduan Pelestarian Bangunan Bersejarah di Kawasan Pecinan-Pasar Baru Bandung. Tesis. Tidak dipublikasikan. Bandung : ITB
Panjaitan, T.W.S. 2004. Peranan Konservasi Arsitektur Bangunan dan Lingkungan dalam Melestarikan Identitas Kota. Selasar Jurnal Arsitektur. 1 (1):
Pontoh, N.K. 1992. Preservasi dan Konservasi Suatu Tinjauan Teori Perancangan Kota. Jurnal PWK, IV (6):34-39.
Shirvani, H. 1985. Urban Design Process. New York : Van Nostrand Remhold
Sudibyo, I. 1997. Pembongkaran Bangunan Kuno: Sebuah Kemiskinan Budaya. Dalam Budiharjo, Eko (Penyunting). Arsitektur Pembangunan dan Konservasi: 142-149. Jakarta: Djambatan
Wiryomartono, B. P. 2002. Urbanitas dan Seni Bina Perkotaan. Jakarta: Balai Pustaka.


 © Antariksa 2012

2 comments:

mell orlenna said...
This comment has been removed by the author.
duniasketsa said...

sangat bermanfaat pak